Berwisata ke Museum Sejarah, Museum Sasmita Loka Ahmad Yani

Siapa sih yang tidak suka untuk melakukan wisata? Saya yakin kita semua pasti suka melakukan wisata, dari tempat terdekat yang ada disekitar kita sampai ke tempat yang jauh yang membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama. Apalagi dengan zaman yang sudah berkembang ini membuat sudah banyak fasilitas yang membuat kita sebagai wisatawan semakin mudah  untuk melakukan wisata. Ditambah pula dengan tempat-tempat wisata menarik yang sudah sangat banyak sekarang ini. Namun dari banyaknya pilihan tempat wisata saya akan membagikan pengalaman saya berwisata ke museum sejarah yang ada di Jakarta yaitu Museum Sasmita Loka Ahmad Yani.

Awalnya saya tidak tahu bahwa ada Museum Sasmita Loka Ahmad Yani di daerah Jakarta sana, saya hanya tahu beberapa museum salah satunya adalah Museum Fatahillah atau dikenal juga Kota Tua yang memang sudah sangat terkenal dan memang sudah banyak orang yang berwisata ke tempat itu. Namun saat itu saya ada tugas dari kuliah yang mengharuskan saya untuk berkunjung ke salah satu Museum di Indonesia dan tidak boleh sama dengan teman saya yang lainnya. Akhirnya setelah saya mencari-cari saya menemukan museum itu  yang menarik perhatian saya, yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya . Museum Sasmita Loka Ahmad Yani ini adalah museum peninggalan Jendral Ahmad Yani yang dulunya merupakan tempat dari tinggal dan juga tempat terbunuhnya Jendral Ahmad Yani karena pemberontakan G-30S/PKI.


Museum yang berlokasi di Jalan Lembang No. 58 Jakart Pusat ini diresmikan pada 1 Oktober 1966 oleh Menpangad Mayjen Soeharto, sesaat setelah rumah beserta isinya diserahkan oleh Ibu A Yani dan putera-puterinya kepada negara. Jendral Ahmad Yani merupakan salah satu korban G30S/PKI yang gugur di kediamannya sendiri oleh tujuh peluru dari senapan pasukan Tjakrabirawa saat Sang Pahlawan Revolusi tengah berganti pakaian dinas. Lima dari tujuh peluru itu meninggalkan lubang tembakan di beberapa tempat, yaitu di pintu sebuah pintu, lukisan serta di lemari yang sampai saat ini masih bisa dilihat oleh kita saat berkunjung ke museum itu. Lokasi tumbangnya Jendral Ahmad Yani pun tepat di depan pintu yang ada bekas lubang tembakan tersebut dan ditandai sebuah plakat warna kuning bertuliskan “DI SINILAH GUGURNJA PAHLAWAN REVOLUSI DJENDERAL TNI A YANI PADA TANGGAL 1 OKTOBER 1965 DJAM 04.35”. 



Bagunan museum ini dibiarkan sama seperti saat ditinggalkan oleh Jendral Ahmad Yani tanpa mengalami banyak perubahan.dalam nya terdapat barang-barang asli milik Letnan Ahmad Yani yang dirawat sedemikian rupa oleh petugas yang ada agar tetap awet ditempat tersebut. Ketika kalian masuk kedalam museum ini kalian akan merasa akan merasa seperti sedang berjalan melintasi portal waktu dan dibawa kembali ke masa saat Jendral Ahmad Yani masih hidup. Museum ini memajang foto di bagian belakang rumah, di antaranya adalah rekonstruksi penembakan dan penculikan oleh Pasukan Cakrabirawa terhadap Jendral Ahmad Yani, serta koleksi foto-foto pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi oleh KKO (Marinir) pada 4 Oktober 1965, upacara pemakaman pada 5 Oktober 1965, foto-foto keluarga, penyerahan Kota Magelang pada 1949 dari Belanda diwakili Letkol van Santen kepada Letkol Ahmad Yani, dan foto-foto karier militer Ahmad Yani lainnya. Di dalam kamar tidur Letjen A. Yani tersimpan pula memorabilia, senjata otomatis Thompson Cakrabirawa yang menewaskannya, lengkap dengan sisa pelurunya, senjata LE Cal 7,62 buatan Cekoslovakia yang dipakai untuk membunuh Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan senjata Owengun yang digunakan untuk menembak DN Aidit dan tokoh PKI lainnya, serta replika pakaian tidur lengan pendek yang digunakan Ibu A. Yani untuk membersihkan lantai dari lumuran darah suaminya.


Museum ini buka setiap hari Selasa sampai dengan Minggu pukul 08.00-15.00 WIB dan untuk masuk kedalam museum ini kalian tidak perlu membeli tiket masuk karena museum ini tidak memungut biaya apapun kepada pengunjung, namun apabila ada pengunjung yang ingin memberikan sumbangan pihak museum akan tetap menerimanya. Persyaratan dari museum ini pun bisa dikatakan sangat sederhana, saat masuk kedalam muesum kalian akan diminta oleh petugas untuk melepas alas kaki yang kalian pakai di depan pintu, kalian juga bisa mengabadikannya dalam bentuk foto setiap sudut ruangan yang ada di museum hanya saja ruangan kamar milik Jendral Ahmad Yani dan istrinya tidak boleh diabadikan dalam bentuk foto oleh pihak pengelola museum karena ruangan tersebut bersifat pribadi. Akses transportasi yang saya gunakan untuk sampai ke museum itu pun cukup mudah, saya hanya tinggal naik KRL Commuter Line yang jurusan akhir Stasiun Angke kemudian saya turun di Stasiun Sudirman dan dari stasiun saya melanjutkan perjalanan ke museum dengan naik ojek online yang ditempuh selama 10 menit saja. Jadi kira-kira total perjalanan saya dari rumah saya yang ada di Bogor sampai ke museum adalah 2 jam. Cukup mudah kan akses transportasi ke museum itu.


Pengalaman saya berwisata ke Museum Sasmita Loka Ahmad Yani merupakan pengalaman yang cukup menyenangkan, karena dengan begitu saya bisa berwisata sambil belajar tentang sejarah yang ada. Setelah dirasa cukup untuk melihat-lihat serta mengetahui museum itu saya memutuskan untuk makan siang serta kembali pulang ke rumah. Suatu hal baru yang dapat kita masukkan kedalam list tempat wisata yang akan kita kunjungi yaitu dengan mengunjungi museum-museum sejarah manapun untuk merasakan serta mendapatkan pengalaman yang beda saat berwisata.

Komentar